Jumat, 13 Maret 2015

Tetaplah Jadi Diri Sendiri


Sumber : http://iphincow.wordpress.com
Tidak dapat disangkal bahwa pada dasarnya setiap orang tentu ingin menjadi orang yang sukses. Ingin menjadi seperti orang yang dikaguminya, dan mungkin juga setiap orang pernah merasakan iri dengan kesuksesan serta kemampuan yang dimiliki oleh orang lain, entah sahabat, teman maupun rekan kerjanya. Namun yakinlah jika perasaan tersebut ada pada diri anda, itu terjadi hanya karena anda ingin menjadi seorang yang lebih baik lagi dari sebelumnya. Dan jangan sampai anda memaksakan diri untuk menjadi apa yang sebenarnya “bukan diri anda” atau memaksakan kegiatan yang pada dasarnya bukan passion anda. Dan setiap orang tentunya mempunyai passion serta pilihan jalur perjalanan hidup mereka masing-masing.

Manusia tidak akan pernah lepas dari yang namanya keraguan, seyakin apapun ia terhadap dirinya sendiri, tentunya akan ada suat masa di mana manusia akan melihat bagaimana keberhasilan orang lain akan mempengaruhi pilihan dan kepribadiannya. Mulanya ia hendak ke kanan, lalu karena pikiran dan kesuksesan orang lain di jalur lainnya, akhirnya ia ragu akan pilihannya dan ia pun mencoba memilih jalur lain tersebut. (pengalaman pribadi)

Bila anda mengalami hal seperti ini, cobalah untuk berhenti sejenak, merenung, dan mulailah untuk mempertimbangkannya secara lebih mendalam. Bisa jadi, apa yang kita pikirkan saat mengubah jalur tersebut hanyalah sebuah keputusan emosional belaka, hanya karena rasa iri kita melihat orang lain merasakan kebahagiaan di jalur lainnya tersebut. Padahal belum tentu nantinya anda akan berhasil seperti orang lain tersebut yang berbeda arah perjalanan dengan anda tersebut.

Maka berhentilah sejenak, pikirkanlah kembali! tunda keputusan untuk mengambil jalur lain. Coba tanyakan kembali pada diri kita masing-masing, seserius apa keinginan kita untuk pindah jalur? Apakah semua resiko sudah dihitung dengan baik? Penulis sendiri pernah mengalami situasi seperti ilustrasi tersebut dan pada akhirnya penulis memutuskan untuk tetap bertahan di jalur milik sendiri walaupun hampir berpaling ke jalur lain.

“Menjadi lebih baik dari diri kita yang sebelumnya itu jauh lebih baik dari pada memaksakan untuk menjadi seperti orang lain.”

Kutipan di atas menggambarkan betapa lebih baiknya mensyukuri perkembangan yang dialami oleh diri kita, dibandingkan dengan memaksakan diri untuk menjadi lebih baik dengan cara menjadi orang lain. Banyak orang yang tidak menyadari bahwa dalam menjalani kehidupannya, setiap orang itu tentunya mempunyai banyak sekali role model yang ia jadikan acuan baginya untuk mengembangkan diri. Namun bukan berari dengan begitu kita musti meniru sepenuhnya apa yang dilakukan oleh role model kita. Akan lebih baik jika kita mampu mem-filter dan terlebih dahulu kita sesuaikan dengan passion kita. Karena mau bagaimanapun juga kita tidak akan mampu menjadi orang yang sama dengan role model yang kita ikuti.

“Hargailah setiap jengkal perkembangan yang terjadi pada diri kita dari waktu ke waktu, itu jauh lebih baik daripada kita harus disibukkan dengan membandingkan diri kita dengan orang lain yang mengambil jalur yang berbeda dengan kita.”



Biar saja orang-orang mengkritik dan mencemooh bentuk tubuh kita, kemiskinan kita, dan segala kekurangan kita. Namun, selama kita tahu cara bagaimana memanfaatkan segenap potensi kita, maka keberhasilan tak akan lari kemana. Bukankah demikian?
Menghargai diri sendiri akan menjadi titik awal keberhasilan. Menghargai diri sendiri adalah titik tolak kesuksesan di masa depan. Alasannya adalah seperti apa kita memandang diri sendiri, seperti itulah kita akan terlihat dan terbentuk. Kalau kita menganggap diri pantas untuk sukses, kita akan bersikap layaknya orang sukses. Disiplin terhadap waktu, matang ketika membuat keputusan, jujur ketika berbicara, produktif ketika bekerja, adil ketika bertransaksi. Siapa yang tak mau bekerjasama dengan orang semacam ini? Perusahaan atau majikan mana yang tak mau memperkerjakannya? Bisnis apa yang tak maju dijalankan olehnya?
Sebaliknya, kalau kita tak menghargai diri sendiri, menganggap diri tak mampu, bodoh, jelek, dan tak layak sukses; maka seperti itu pulalah kita akan terlihat dan terbentuk. Langkah pelan, punggung membungkuk, bahu melorot, kepala menunduk, wajah memerah, bicara terbata-bata, sehingga yang terlihat adalah sosok yang bodoh dan minder, persis seperti anggapan kita. Siapa yang mau bergaul dengan orang semacam ini? Bagaimana ia bisa sukses di masa depan?
Seberapa besar kita “menyukai diri sendiri” akan menentukan seberapa besar kita “menyukai hidup”, yang kemudian akan menentukan seberapa besar “pencapaian” kita dalam hidup. Menghargai diri sendiri itu bukan berarti egois (mementingkan diri sendiri). Justru kedua hal itu sangat bertolak belakang. Orang yang egois selalu ingin menjadi pusat perhatian, haus penghargaan, dan kurang peduli pada orang-orang disekelilinginya.
Sebaliknya, menghargai diri sendiri berarti mampu menyeimbangkan antara kebutuhan diri sendiri dengan kebutuhan orang lain. Kita peduli pada kepentingan orang lain dan berusaha membantu semampu kita.
Kita merasa senang dan bangga bila berhasil, namun tak merasa perlu mengumumkan keberhasilan kita pada orang lain demi mendapat perhatian dan pujian. Kita menerima segala kekurangan diri sambil terus berusaha keras memperbaiki diri agar senantiasa mendapat nilai plus di hadapan Tuhan, sang pencipta hidup kita.
Banyak cara untuk menghargai dan memperlakukan diri sendiri secara positif. Salah satunya adalah dengan “menjaga citra diri”. Bila kita mampu menghargai diri sendiri, maka “citra diri” kita akan terjaga. Tidak melakukan hal-hal yang mengandung unsur dosa dan maksiat adalah wujud penghargaan terhadap diri sendiri yang akan menjaga citra diri kita. Jika citra diri kita dapat terjaga dengan baik, maka penghargaan kita terhadap diri sendiri pun akan terpelihara. Begitulah seperti mata rantai yang saling terkait.
Cara lain untuk menghargai diri sendiri adalah dengan “berbicara positif tentang diri.” Berbicara positif tentang diri sendiri berarti menegaskan tentang siapa jati diri kita, keyakinan-keyakinan kita akan kebenaran, dan bukannya untuk menghidupkan kesombongan. Karena siapapun orangnya pasti tidak suka kesombongan, bahkan dalam semua ajaran agama apapun amat sangat benci dengan kesombongan.
Berbicara yang baik tentang diri sendiri merupakan cara untuk me-maintenance pikiran dan perilaku kita supaya tetap positif. Itulah kenapa dalam pelatihan-pelatihan motivasi biasanya kita diminta membuat daftar kelebihan diri. Karena memahami kelebihan diri dapat meningkatkan penghargaan terhadap diri sendiri, memberi motivasi untuk berfokus mengembangkan kelebihan dibanding menyesali kelemahan diri.
Menurut para ahli psikomotorik, jika kita sering mengucapkan hal-hal positif tentang diri sendiri, baik ketika akan tidur maupun saat bangun, alam bawah sadar akan bekerja sehingga segenap pikiran kita dipenuhi hal-hal positif setiap saat. Itulah kenapa orang-orang sukses melakukan hal ini.
Tuhan menyuruh kita berpikir positif. Apapun yang kita sangka, maka itulah yang kita dapatkan. Jika kita menyangka sesuatu yang baik, maka kita akan mendapatkannya yang baik pula. Dan jika kita menyangka sesuatu yang buruk, kita pun akan mendapatkannya yang buruk. Jadi, kenapa kita tidak menyangka yang baik saja?
Ok, buat semua saudaraku para BMI di bumi Formosa; “Selamat bekerja dan berjuang , semoga sehat dan sukses selalu menyertai Anda semua.” Tetap semangat dan berpikir optimis, hargailah diri sendiri dan jangan lupa berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa.


Menghargai orang lain adalah suatu keharusan, karena hidup ini adalah untuk saling menghargai, kasih mengasihi, saling asuh, saling bahu membahu. Namun timbul pertanyaan, bagaimana seseorang bisa menghargai diri kita? Jawabnya sederhana saja, jadi intinya adalah jika kita menghargai orang lain maka orang lain juga akan menghargai kita.
Pertanyaan lagi, bagaimana kalau saya selalu berbuat baik terus orang lain membalas dengan kejahatan, seperti pepatah kita mengatakan “air susu di balas dengan air tuba” , jawabnya adalah, coba kita lihat kebelakang (masa lalu) kita dan kaji kembali apa yang pernah kita lakukan, sang pencipta menciptakan segala yang ada di muka bumi ini dengan berpasang-pasangan, kaya-miskin, susah-senang, sehat-sakit, BAIK-JAHAT, laki-perempuan dan masih banyak lagi.
Kenapa yang baik-jahat di tebalkan ya?
jangan di pikirkan sobat karna itu menyangkut apa yang saya bicarakan. Jadi begini, hidup memang tak pernah lari dari kesalahan, oleh karna itu kita jangan menyalahkan diri sendiri krna tuhan selalu memberikan yang baik buat hambanya, cuma kita sebagai hamba ini yang tidak mau tau apa yang Tuhan berikan kepada kita sebagai hambanya.

Anda memiliki penilaian psitif pada diri Anda sendiri. Anda mengenal diri Anda secara baik. Anda memiliki penerimaan diri yang kualitasnya lebih mungkin mengarah ke kerendahan hati dan ke kedermawanan.

Anda dapat menyimpan informasi tentang diri sendiri – informasi negatif maupun positif. Anda seorang yang optimis, penuh percaya diri, dan selalu bersikap positif terhadap segala sesuatu, juga terhadap kegagalan yang dialaminya. Anda menganggap hidup adalah suatu proses penemuan. Anda berharap kehidupan dapat membuat diri Anda senang, dapat memberikan kejutan, dan memberikan imbalan.

Sumber : http://iphincow.wordpress.com
Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar