Sumber : http://iphincow.wordpress.com
Tidak
dapat disangkal bahwa pada dasarnya setiap orang tentu ingin menjadi orang yang
sukses. Ingin menjadi seperti orang yang dikaguminya, dan mungkin juga setiap
orang pernah merasakan iri dengan kesuksesan serta kemampuan yang dimiliki oleh
orang lain, entah sahabat, teman maupun rekan kerjanya. Namun yakinlah jika perasaan
tersebut ada pada diri anda, itu terjadi hanya karena anda ingin menjadi
seorang yang lebih baik lagi dari sebelumnya. Dan jangan sampai anda memaksakan
diri untuk menjadi apa yang sebenarnya “bukan diri anda” atau memaksakan
kegiatan yang pada dasarnya bukan passion
anda. Dan setiap orang tentunya mempunyai passion
serta pilihan jalur perjalanan hidup mereka masing-masing.
Manusia
tidak akan pernah lepas dari yang namanya keraguan, seyakin apapun ia terhadap
dirinya sendiri, tentunya akan ada suat masa di mana manusia akan melihat
bagaimana keberhasilan orang lain akan mempengaruhi pilihan dan kepribadiannya.
Mulanya ia hendak ke kanan, lalu karena pikiran dan kesuksesan orang lain di
jalur lainnya, akhirnya ia ragu akan pilihannya dan ia pun mencoba memilih
jalur lain tersebut. (pengalaman pribadi)
Bila anda
mengalami hal seperti ini, cobalah untuk berhenti sejenak, merenung, dan
mulailah untuk mempertimbangkannya secara lebih mendalam. Bisa jadi, apa yang
kita pikirkan saat mengubah jalur tersebut hanyalah sebuah keputusan emosional
belaka, hanya karena rasa iri kita melihat orang lain merasakan kebahagiaan di
jalur lainnya tersebut. Padahal belum tentu nantinya anda akan berhasil seperti
orang lain tersebut yang berbeda arah perjalanan dengan anda tersebut.
Maka
berhentilah sejenak, pikirkanlah kembali! tunda keputusan untuk mengambil jalur
lain. Coba tanyakan kembali pada diri kita masing-masing, seserius apa
keinginan kita untuk pindah jalur? Apakah semua resiko sudah dihitung dengan
baik? Penulis sendiri pernah mengalami situasi seperti ilustrasi tersebut dan
pada akhirnya penulis memutuskan untuk tetap bertahan di jalur milik sendiri
walaupun hampir berpaling ke jalur lain.
“Menjadi
lebih baik dari diri kita yang sebelumnya itu jauh lebih baik dari pada
memaksakan untuk menjadi seperti orang lain.”
Kutipan di
atas menggambarkan betapa lebih baiknya mensyukuri perkembangan yang dialami
oleh diri kita, dibandingkan dengan memaksakan diri untuk menjadi lebih baik
dengan cara menjadi orang lain. Banyak orang yang tidak menyadari bahwa dalam
menjalani kehidupannya, setiap orang itu tentunya mempunyai banyak sekali role model yang ia jadikan acuan baginya
untuk mengembangkan diri. Namun bukan berari dengan begitu kita musti meniru
sepenuhnya apa yang dilakukan oleh role
model kita. Akan lebih baik jika kita mampu mem-filter dan terlebih dahulu kita sesuaikan dengan passion kita.
Karena mau bagaimanapun juga kita tidak akan mampu menjadi orang yang sama
dengan role model yang kita ikuti.
“Hargailah
setiap jengkal perkembangan yang terjadi pada diri kita dari waktu ke waktu,
itu jauh lebih baik daripada kita harus disibukkan dengan membandingkan diri
kita dengan orang lain yang mengambil jalur yang berbeda dengan kita.”
Biar saja orang-orang mengkritik
dan mencemooh bentuk tubuh kita, kemiskinan kita, dan segala kekurangan kita.
Namun, selama kita tahu cara bagaimana memanfaatkan segenap potensi kita, maka
keberhasilan tak akan lari kemana. Bukankah demikian?
Menghargai diri sendiri akan
menjadi titik awal keberhasilan. Menghargai diri sendiri adalah titik tolak
kesuksesan di masa depan. Alasannya adalah seperti apa kita memandang diri
sendiri, seperti itulah kita akan terlihat dan terbentuk. Kalau kita menganggap
diri pantas untuk sukses, kita akan bersikap layaknya orang sukses. Disiplin
terhadap waktu, matang ketika membuat keputusan, jujur ketika berbicara,
produktif ketika bekerja, adil ketika bertransaksi. Siapa yang tak mau
bekerjasama dengan orang semacam ini? Perusahaan atau majikan mana yang tak mau
memperkerjakannya? Bisnis apa yang tak maju dijalankan olehnya?
Sebaliknya, kalau kita tak
menghargai diri sendiri, menganggap diri tak mampu, bodoh, jelek, dan tak layak
sukses; maka seperti itu pulalah kita akan terlihat dan terbentuk. Langkah
pelan, punggung membungkuk, bahu melorot, kepala menunduk, wajah memerah,
bicara terbata-bata, sehingga yang terlihat adalah sosok yang bodoh dan minder,
persis seperti anggapan kita. Siapa yang mau bergaul dengan orang semacam ini?
Bagaimana ia bisa sukses di masa depan?
Seberapa besar kita “menyukai
diri sendiri” akan menentukan seberapa besar kita “menyukai hidup”, yang
kemudian akan menentukan seberapa besar “pencapaian” kita dalam hidup.
Menghargai diri sendiri itu bukan berarti egois (mementingkan diri sendiri).
Justru kedua hal itu sangat bertolak belakang. Orang yang egois selalu ingin
menjadi pusat perhatian, haus penghargaan, dan kurang peduli pada orang-orang
disekelilinginya.
Sebaliknya, menghargai diri
sendiri berarti mampu menyeimbangkan antara kebutuhan diri sendiri dengan
kebutuhan orang lain. Kita peduli pada kepentingan orang lain dan berusaha
membantu semampu kita.
Kita merasa senang dan bangga
bila berhasil, namun tak merasa perlu mengumumkan keberhasilan kita pada orang
lain demi mendapat perhatian dan pujian. Kita menerima segala kekurangan diri
sambil terus berusaha keras memperbaiki diri agar senantiasa mendapat nilai
plus di hadapan Tuhan, sang pencipta hidup kita.
Banyak cara untuk menghargai dan
memperlakukan diri sendiri secara positif. Salah satunya adalah dengan “menjaga
citra diri”. Bila kita mampu menghargai diri sendiri, maka “citra diri” kita
akan terjaga. Tidak melakukan hal-hal yang mengandung unsur dosa dan maksiat
adalah wujud penghargaan terhadap diri sendiri yang akan menjaga citra diri
kita. Jika citra diri kita dapat terjaga dengan baik, maka penghargaan kita
terhadap diri sendiri pun akan terpelihara. Begitulah seperti mata rantai yang
saling terkait.
Cara lain untuk menghargai diri
sendiri adalah dengan “berbicara positif tentang diri.” Berbicara positif
tentang diri sendiri berarti menegaskan tentang siapa jati diri kita,
keyakinan-keyakinan kita akan kebenaran, dan bukannya untuk menghidupkan
kesombongan. Karena siapapun orangnya pasti tidak suka kesombongan, bahkan
dalam semua ajaran agama apapun amat sangat benci dengan kesombongan.
Berbicara yang baik tentang diri
sendiri merupakan cara untuk me-maintenance pikiran dan perilaku kita
supaya tetap positif. Itulah kenapa dalam pelatihan-pelatihan motivasi biasanya
kita diminta membuat daftar kelebihan diri. Karena memahami kelebihan diri
dapat meningkatkan penghargaan terhadap diri sendiri, memberi motivasi untuk
berfokus mengembangkan kelebihan dibanding menyesali kelemahan diri.
Menurut para ahli psikomotorik,
jika kita sering mengucapkan hal-hal positif tentang diri sendiri, baik ketika
akan tidur maupun saat bangun, alam bawah sadar akan bekerja sehingga segenap
pikiran kita dipenuhi hal-hal positif setiap saat. Itulah kenapa orang-orang
sukses melakukan hal ini.
Tuhan menyuruh kita berpikir
positif. Apapun yang kita sangka, maka itulah yang kita dapatkan. Jika kita
menyangka sesuatu yang baik, maka kita akan mendapatkannya yang baik pula. Dan
jika kita menyangka sesuatu yang buruk, kita pun akan mendapatkannya yang
buruk. Jadi, kenapa kita tidak menyangka yang baik saja?
Ok, buat semua saudaraku para
BMI di bumi Formosa; “Selamat bekerja dan berjuang , semoga sehat dan sukses
selalu menyertai Anda semua.” Tetap semangat dan berpikir optimis, hargailah
diri sendiri dan jangan lupa berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Menghargai orang lain adalah suatu
keharusan, karena hidup ini adalah untuk saling menghargai, kasih mengasihi,
saling asuh, saling bahu membahu. Namun timbul pertanyaan, bagaimana seseorang
bisa menghargai diri kita? Jawabnya sederhana saja, jadi intinya adalah jika
kita menghargai orang lain maka orang lain juga akan menghargai kita.
Pertanyaan lagi, bagaimana kalau
saya selalu berbuat baik terus orang lain membalas dengan kejahatan, seperti
pepatah kita mengatakan “air susu di balas dengan air tuba” , jawabnya
adalah, coba kita lihat kebelakang (masa lalu) kita dan kaji kembali apa yang
pernah kita lakukan, sang pencipta menciptakan segala yang ada di muka bumi ini
dengan berpasang-pasangan, kaya-miskin, susah-senang, sehat-sakit, BAIK-JAHAT,
laki-perempuan dan masih banyak lagi.
Kenapa yang baik-jahat di tebalkan
ya?
jangan di pikirkan sobat karna itu
menyangkut apa yang saya bicarakan. Jadi begini, hidup memang tak pernah lari
dari kesalahan, oleh karna itu kita jangan menyalahkan diri sendiri krna tuhan
selalu memberikan yang baik buat hambanya, cuma kita sebagai hamba ini yang
tidak mau tau apa yang Tuhan berikan kepada kita sebagai hambanya.
Anda memiliki penilaian psitif pada
diri Anda sendiri. Anda mengenal diri Anda secara baik. Anda memiliki penerimaan
diri yang kualitasnya lebih mungkin mengarah ke kerendahan hati dan ke
kedermawanan.
Anda dapat menyimpan informasi
tentang diri sendiri – informasi negatif maupun positif. Anda seorang yang
optimis, penuh percaya diri, dan selalu bersikap positif terhadap segala
sesuatu, juga terhadap kegagalan yang dialaminya. Anda menganggap hidup adalah
suatu proses penemuan. Anda berharap kehidupan dapat membuat diri Anda senang,
dapat memberikan kejutan, dan memberikan imbalan.
Sumber : http://iphincow.wordpress.com